Kesiapan Siswa Indonesia Dalam Masyarakat Ekonomi Asean

Salam Dapodik News. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) merupakan keniscayaan yang harus dihadapi dengan penuh persiapan, termasuk dalam bidang pendidikan, tingkat persaingan dalam segala bidang genderangnya telah dimulai sejak awal tahun 2015.

Dalam bidang ekonomi persaingan akan semakin ketat dengan membanjirnya produk-produk yang berasal dari negara-negara Asean antar satu negara dengan negara lainnya,Indonesia diharapkan akan memberi warna dalam perkembangan ekonomi di kawasan Asia tenggara ini.

Dalam Bidang pendidikan, akhir tahun 2015 akan menjadi penanda dimulainya era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA). Era ini merupakan era dimana pasar tenaga kerja tidak lagi berputar di dalam negara tapi sudah lintas negara. Para peserta didik yang sebentar lagi harus berhadapan dengan MEA harus mempersiapkan diri supaya tidak menjadi asing di negeri sendiri.

Dikemukakan Plt. Pusat Informasi dan Humas Ari Santoso, guna menghadapi MEA siswa harus siap menghadapi berbagai ujian. Ujian yang paling dekat saat ini adalah ujian nasional (UN). Walaupun UN tahun ini tidak lagi dijadikan penentu kelulusan, Ari meminta agar siswa tidak menganggap remeh ujian tersebut. "Jangan dilihat kebijakan itu dari sisi negatif. Harus tetap siap menghadapi ujian," kata Ari saat membuka forum diskusi terarah yang berisi para siswa kelas tiga SMP, SMA, dan SMK, di Kantor Kemendikbud,

Ari mengatakan, untuk bersaing di pasar tenaga kerja ASEAN, siswa harus melihat contoh dari orang-orang besar terdahulu. Mereka, kata dia, mencapai kesuksesan setelah melalui ujian yang luar biasa berat. "Tidak akan pernah ada tokoh besar tanpa ujian yang luar biasa. Semua tokoh top itu menghadapi ujian luar biasa sampai stres," katanya.

Ia juga mengatakan, di belahan dunia manapun ujian pasti ada. Dalam kesempatan tersebut Ari menceritakan pengalamannya ketika bersekolah di Prancis. Setiap siswa di Prancis, tuturnya, mengikuti ujian. Dan ketidaklulusan dianggap hal yang biasa dan siswa bisa mengulang lagi di tahun berikutnya. Pendidikan di negara kiblat fesyen itu gratis dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Tapi dengan pendidikan gratis tersebut, masyarakat di sana bersungguh-sungguh saat melakukan ujian agar dapat masuk ke jenjang berikutnya.

Kepada para peserta didik dalam forum ini Ari mengatakan, saat ini pemerintah tidak lagi mengeluarkan kebijakan yang hanya melihat dari tatanan tingkat atas saja. Melalui forum tersebut, pemerintah membuka diri untuk mendengar pendapat para siswa tentang keberadaan UN dan kesiapan mereka menghadapinya.

"Dan dari masukan itu membuat kita harus menyiapkan pendidikan sebaik-baiknya," katanya

Informasi Terbaru

Back To Top